Selasa, 08 Juli 2014

"Pelajaran" (Cerpen 1)

Langit itu gelap, angin semilir menyengat tubuhku, aku berdiri tepat disamping jendela kacaku.. Malam ini berbeda tidak seperti biasa.. biasanya tukang nasi goreng selalu lewat didepan rumah ,keributan yang selalu ia buat… “Nasi Goreng…!! Nasi Goreng….!!” Tidak Ketinggalan suara Kelentingan sendok yang berpadu dengan mangkuk.

Kemana bapak penjual nasi goreng itu.. Aku menghela nafas.. rasa bosan langsung menghampiri ku,belum lagi suara keroncongan perutku yang terus berbunyi hingga tadi,tidak mungkin aku harus menunggu tukang nasi goreng datang ,Aku mulai keluar kamar,..
“Yah…yah, Vita Keluar sebentar ,cari makanan” teriaku kepada ayah dengan lembut,ayah sedang menonton tv diruang tamu…dengan tenangnya,sontak ia menoleh kearahku
 “ Sudah malam, Ayah temani ya nak”
“ Vita sudah dewasa yah,tidak harus ditemani” jawabku sambil terburu-buru memakai sandal meninggalkan rumah.
Aku melihat sekeliling… Sebagian rumah sudah mematikan lampunya, saat aku berjalan, aku melihat pak rahmat sedang berjalan sambil menenteng sampah ditangan kanannya, Ia menyapaku terlebih dahulu..
 “Mau kemana vita, sudah malam jangan pergi jauh-jauh … anak gadis!”
 Aku tersenyum               
“Mau cari makanan sebentar pak” jawabku sambil berjalan dengan lambat , pak rahmat hanya membalas dengan tersenyum.

 Disaat aku sudah hampir sampai dipersimpangan jalan , aku melihat sekelompok orang tengah berkerumun dipersimpangan, keributan mulai terdengar saat aku mulai mendekati kerumunan itu, aku mendengar sedikit-demi-sedikit percakapan mereka , “Kasihan ya bapak ini, kasihan keluarga yang ditinggalkan”. Tersentak dibenakku.. siapa…ada apa ini… aku mulai menggeser kerumunan menyelip masuk ,melihat apa yang terjadi,.. aku tidak tau,…apa yang kurasakan saat aku melihatnya , jantungku seakan berhenti berdetak..aku tidak bisa menahan air mataku yang perlahan mulai menetes..

“Ayah…!!”  Air mataku terus mengalir , aku melihat ayah terbaring dengan berlumuran darah ditangannnya, orang-orang disekelilingku langsung mengangkat ayah kedalam mobil salah satu penduduk, Sepanjang perjalanan aku terus menangis, aku tidak tau apa yang kurasakan , sedih bercampur bingung, dilain sisi aku sedih karena ayah, dilain sisi aku sedih mengapa ayah bisa seperti ini, setauku saat aku meninggalkan rumah ayah tengah menonton tv diruang tamu … tapi kenapa seperti ini??... Mendadak mobil mengerem dengan cakram, para suster segera mengeluarkan ayah.. Aku berjalan lemas, lengan bajuku basah karena air mataku.. aku terus berjalan memasuki rumah sakit, saat suster sudah memasukan ayah kekamar, suster menghalangiku untuk masuk, menyuruhku untuk menunggu diruang tunggu,

Setelah sekitar satu jam ,.. dokter keluar kamar dan memanggilku “ Kamu salah satu keluarga pasien?” sentak dokter dengan menepuk pundaku,.. “ iya dok” jawabku…Aku langsung masuk menuju kamar , melihat ayah terbaring lemas, tangannya diinfus … Ayah langsung menoleh kearahku, tatapannya cemas, 

“Kamu tidak kenapa-kenapa kan nak..?” tatapan cemasnya masih tertuju kepadaku, “Ayah kenapa? Vita tidak kenapa-kenapa yah.. Ayah yang sekarang kenapa-kenapa … kenapa ayah tiba-tiba terbaring dijalan?” aku terus menangis.. ayah mengelus rambutku dengan halus, “maafkan ayah ya nak, ayah khawatir saat kamu keluar rumah tadi, ayah takut kamu kenapa-kenapa, saat ayah keluar rumah, vita sudah tidak ada, ayah berlari mengejar vita, tapi mendadak ada mobil ngebut lalu menyerempet ayah” rasa penyesalan tampak diwajah ayah, rasa sedihku semakin meluap, aku menangis sambil memeluk ayah, .. Ayah ternyata lebih memperdulikan ku ketimbang dirinya, aku fikir saat ia tau aku ingin keluar rumah, ia tidak perduli dan menghiraukan ku, begitulah ayah..tidak selalu menujukan kekhawatirannya secara langsung, rasa sayang dan kekhawatiranya ditunjukan lewat tindakan dibanding kata-kata, mulai sekarang aku akan lebih mendengar perkataan ayah , dan tidak membuatnya cemas lagi.

2 komentar: