Langit itu gelap, angin semilir menyengat tubuhku, aku
berdiri tepat disamping jendela kacaku.. Malam ini berbeda tidak seperti
biasa.. biasanya tukang nasi goreng selalu lewat didepan rumah ,keributan yang
selalu ia buat… “Nasi Goreng…!! Nasi Goreng….!!” Tidak Ketinggalan suara
Kelentingan sendok yang berpadu dengan mangkuk.
Kemana bapak penjual nasi goreng itu.. Aku menghela nafas..
rasa bosan langsung menghampiri ku,belum lagi suara keroncongan perutku yang
terus berbunyi hingga tadi,tidak mungkin aku harus menunggu tukang nasi goreng
datang ,Aku mulai keluar kamar,..
“Yah…yah, Vita Keluar sebentar ,cari makanan” teriaku kepada
ayah dengan lembut,ayah sedang menonton tv diruang tamu…dengan tenangnya,sontak
ia menoleh kearahku
“ Sudah malam, Ayah
temani ya nak”
“ Vita sudah dewasa yah,tidak harus ditemani” jawabku sambil
terburu-buru memakai sandal meninggalkan rumah.
Aku melihat sekeliling… Sebagian rumah sudah mematikan
lampunya, saat aku berjalan, aku melihat pak rahmat sedang berjalan sambil
menenteng sampah ditangan kanannya, Ia menyapaku terlebih dahulu..
“Mau kemana vita, sudah
malam jangan pergi jauh-jauh … anak gadis!”
Aku tersenyum
“Mau cari makanan sebentar pak” jawabku sambil berjalan dengan
lambat , pak rahmat hanya membalas dengan tersenyum.
Disaat aku sudah
hampir sampai dipersimpangan jalan , aku melihat sekelompok orang tengah
berkerumun dipersimpangan, keributan mulai terdengar saat aku mulai mendekati
kerumunan itu, aku mendengar sedikit-demi-sedikit percakapan mereka , “Kasihan
ya bapak ini, kasihan keluarga yang ditinggalkan”. Tersentak dibenakku..
siapa…ada apa ini… aku mulai menggeser kerumunan menyelip masuk ,melihat apa
yang terjadi,.. aku tidak tau,…apa yang kurasakan saat aku melihatnya , jantungku
seakan berhenti berdetak..aku tidak bisa menahan air mataku yang perlahan mulai
menetes..
“Ayah…!!” Air mataku
terus mengalir , aku melihat ayah terbaring dengan berlumuran darah
ditangannnya, orang-orang disekelilingku langsung mengangkat ayah kedalam mobil
salah satu penduduk, Sepanjang perjalanan aku terus menangis, aku tidak tau apa
yang kurasakan , sedih bercampur bingung, dilain sisi aku sedih karena ayah,
dilain sisi aku sedih mengapa ayah bisa seperti ini, setauku saat aku
meninggalkan rumah ayah tengah menonton tv diruang tamu … tapi kenapa seperti
ini??... Mendadak mobil mengerem dengan cakram, para suster segera mengeluarkan
ayah.. Aku berjalan lemas, lengan bajuku basah karena air mataku.. aku terus
berjalan memasuki rumah sakit, saat suster sudah memasukan ayah kekamar, suster
menghalangiku untuk masuk, menyuruhku untuk menunggu diruang tunggu,
Setelah sekitar satu jam ,.. dokter keluar kamar dan
memanggilku “ Kamu salah satu keluarga pasien?” sentak dokter dengan menepuk
pundaku,.. “ iya dok” jawabku…Aku langsung masuk menuju kamar , melihat ayah
terbaring lemas, tangannya diinfus … Ayah langsung menoleh kearahku, tatapannya
cemas,
“Kamu tidak kenapa-kenapa kan nak..?” tatapan cemasnya masih tertuju
kepadaku, “Ayah kenapa? Vita tidak kenapa-kenapa yah.. Ayah yang sekarang
kenapa-kenapa … kenapa ayah tiba-tiba terbaring dijalan?” aku terus menangis..
ayah mengelus rambutku dengan halus, “maafkan ayah ya nak, ayah khawatir saat
kamu keluar rumah tadi, ayah takut kamu kenapa-kenapa, saat ayah keluar rumah,
vita sudah tidak ada, ayah berlari mengejar vita, tapi mendadak ada mobil
ngebut lalu menyerempet ayah” rasa penyesalan tampak diwajah ayah, rasa sedihku
semakin meluap, aku menangis sambil memeluk ayah, .. Ayah ternyata lebih
memperdulikan ku ketimbang dirinya, aku fikir saat ia tau aku ingin keluar
rumah, ia tidak perduli dan menghiraukan ku, begitulah ayah..tidak selalu
menujukan kekhawatirannya secara langsung, rasa sayang dan kekhawatiranya
ditunjukan lewat tindakan dibanding kata-kata, mulai sekarang aku akan lebih
mendengar perkataan ayah , dan tidak membuatnya cemas lagi.